BELAJAR SUKA MEMBACA

Salah satu alasan yang dipaparkan para ibu jika saya tanya, “Suka bacain buku untuk anaknya, nggak?” adalah, “Anak saya ga suka baca buku. Kalau saya bacain buku suka ditinggal-tinggal, atau bukunya disobek.”

Dalam hati, “ow…jadi menyerah begitu saja?”

Lalu saya lanjutin lah pancingannya, “…tapi Bundanya suka baca kan?”

Mereka tertawa kecil sambil menggeleng.

Jawaban lain yang saya dapatkan adalah, “Anak saya ga suka baca buku. Padahal saya sudah belikan banyak buku di rumah, tapi anak saya ga  mau dibacakan buku. Enak ya, Mbak, Arel suka baca buku.”

He he…mereka ga tahu perjuangan saya untuk tiba di kalimat “Arel suka baca buku.”

Jangan bayangkan membaca buku dengan anak itu seperti di gambar-gambar yang dibagikan di internet atau poster. Seorang ibu atau ayah yang memangku anak yang berwajah gembira sambil memegang buku. Sebagian besar itu tidak terjadi khususnya untuk anak-anak pemula. Itu tidak terjadi pada saya  saat mengenalkan buku pada Arel. Boro-boro dipangku, bisa duduk 10 detik aja mujizat bagi saya. Menyerah? Nggak.

Masih menyimak cerita saya? Oke, ini yang Anda butuhkan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak.

1. Jelas, kita perlu buku.

2. Otot kawat, balung besi. He he bercanda, maksud saya kita perlu niat yang teguh. Kebiasaan membaca buku itu perlu kedisiplinan, ketelatenan dan ketekunan. Kita perlu kekuatan Gatotkaca.

3. Biasakan diri sendiri rajin membaca lebih dulu. Sungguh menyakitkan kalau anak kita sendiri menggunakan kelemahan kita sebagai senjata, “Mama ga suka baca, kok aku disuruh baca.” (nah loe)

Setelah ketiga perlengkapan perang utama itu, di bawah ini tercantum beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengajak anak membaca (kok jadi kayak surat pengantar ya?!)

1. Cek ulang usia anak 😆. Membacakan buku bersama anak tidak bisa disamakan caranya. Waktu Arel masih bayi dulu, saya membukakan bukunya, menunjukkan gambar-gambarnya, menamai dan menyebutkan benda atau mahluk hidup pada bukunya. Tulisan di bukunya tidak saya bacakan dulu. Lalu ketika Arel masuk fase gigit-gigit, emut-emut dan icip-icip semua hal, saya cari buku yang berkertas tebal biar ga gampang sobek. Kalau terlanjur sobek, ambil napas panjang hembuskan, lakukan 3x. Ga usah marah-marah. Percuma. Lalu bilang, “yah..sobek (sambil tunjukkan sobekannya). Kita benerin ya.” Lalu ambil isolasi dan gunting. Rekatkan lagi sembari mengatakan, “nanti lebih hati-hati ya. Kalau sobek, Mama sedih. Bukunya jadi ga bisa dibaca.”  Mereka paham, sungguh.

2. Biasakan setiap hari membacakan buku. Saya tidak akan menyarankan waktu tertentu. Para Ibu lebih tahu kondisi anaknya masing-masing dan punya aturan keluarga yang berbeda. Kalau ada yang bilang mau tidur dibacain buku, Anda coba, berhasil, monggo, diteruskan (karena ini tidak berhasil pada Arel he he :); yang terjadi justru dia terjaga sampai tengah malam). Kalau Anda lebih suka sore hari setelah memandikan si Kecil, oke juga. Kebiasaan membaca itu harus dimulai dengan suasana santai dan menyenangkan.

3. Tarik ulur dan tangkap moment-nya. Maksudnya? Sebelum sampai ke tahap “anak duduk tenang saat membaca,” mereka akan jinak-jinak merpati bahkan bisa tidak perduli sama sekali. Karena itu Ibu perlu tahu anak sedang menyukai apa saat itu. Jika ia sedang suka dengan Dinosaurus, misalnya, cari buku bertema dinosaurus. Sesuaikan kemauan si kecil. Biasanya untuk permulaan, anak-anak akan ‘mengintip’ isi buku saja; 3-10 detik, lalu pergi. Ya sudah, ga papa. Nanti diulang lagi. Lama-lama waktu ‘mengintipnya’ akan lebih panjang. Sisipkan bahasan tentang dinosaurus (atau lainnya) di sela-sela pembicaraan santai. Nah ini artinya para Ibu harus baca dulu isi bukunya. Misal sedang makan sayur, coba bilang,”Dinosaurus itu ada lho yang suka makan sayur. Namanya apa ya?”

4. Tidak usah buru-buru membaca tulisan di halaman bukunya. Buat anak-anak merasa nyaman dulu dengan buku. Buku adalah sesuatu yang asing bagi anak-anak, sama asingnya dengan segala sesuatu di sekitar mereka. Perlihatkan dulu halaman-halamannya, gambar-gambar di dalamnya, buat mereka tertarik. Jika waktu mengintip mereka sudah lebih panjang, sisipkan ceritanya secara umum dulu. Lama-lama mereka akan bertanya sendiri,”terus?” Itulah saat memperpanjang cerita.

5. Buatlah kegiatan sederhana yang bertema sama dengan isi buku yang sedang dibaca. Masih dengan contoh tema Dinosaurus, kita bisa membelikan mainan Dinosaurus lalu meminta anak-anak mencocokkan mainan itu dengan gambar yang ada di buku. Males keluar beli mainan? Cari kertas bekas,gunting, dan lem. Potong-potong lalu buat gambar tempel dinosaurus. (sediakan selalu dalam tas kecil kertas lipat, gunting kecil,lem dan beberapa spidol warna. Ini salah satu perlengkapan perang saya yang selalu ada di rumah dan dibawa bepergian)

Dari pengalaman pribadi, Arel akan lebih mengingat isi buku, yang saya gabungkan dengan kegiatan jalan-jalan, main-main, dan makan-makan (ini sih Emaknya yang doyan 😆)

Waah…panjang ya prosesnya. Jadi, kalau hari ini si kecil belum suka membaca, tidak ada alasan “anak saya ga suka baca.”

It is begin from you….

Tertanda,

Emak Ningnong

(NB: ini foto waktu Arel tanya tentang berkemah. Ayahnya akhirnya memasang tenda di dalam rumah dan membacakan cerita tentang berkemah)

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s